Sebagai sebuah kolektif, Bakudapan memproduksi pengetahuan secara bersama-sama dengan melakukan riset, mengadakan acara, membuat karya, dan lain-lain. Kerja-kerja ini melibatkan (dan saling bergantung dengan) banyak kawan yang memiliki praktik dan pengetahuan untuk berbagi sumber daya, pengetahuan, dan jaringan. Sistem kerja kolektif terus berubah bentuk di tengah kondisi yang kian dinamis (baik dalam maupun di luar kendali kami). Maka dari itu, kerja perawatan adalah hal yang penting dan melibatkan banyak orang. Namun, sering kali kita melupakan bagaimana merawat diri secara kolektif meski sering melakukannya untuk orang lain. Pertanyaan yang masih menempel di benak kami adalah bagaimana cara untuk merawat relasi yang ada dalam kolektif supaya bisa menjadi bekal perawatan dengan kawan-kawan di luar kolektif?

Tulisan ini adalah surat menyurat dari dua anggota Bakudapan Food Study Group yang mencoba melihat kembali alat-alat perawatan yang mereka gunakan di dalam kelompok. Merawat kesalahan menjadi satu kacamata yang bisa dipakai untuk melihat cara berpikir dan merasakan hal-hal yang mungkin lewat sekelebat. Begitu cepatnya sampai ia terlupakan dan bisa jadi ia adalah hal yang tidak “wajar” untuk dibicarakan. Walaupun begitu, kami percaya semua ini perlu untuk dibicarakan dan dicatatkan agar kelak menjadi pelajaran serta refleksi bersama.





Dear Ms Mba Nisa,

Semoga ketika email ini sampai kamu sedang dalam kondisi baik dan juga sudah istirahat (karena kayaknya akan kukirim tengah malem). Seharian ini aku menunda-nunda nulis email ini, gak tau kenapa... Mungkin karena bingung apa yang mau kutulis, atau mungkin aku masih bad mood karena seharusnya tadi pagi aku ke dokter gigi, tapi ternyata direschedule sama RS-nya. #curcol :( Mungkin juga karena hyperaware dengan apa yang ditulis, otakku langsung menyensor apa yang boleh dan nggak boleh masuk, karena mau buat open submission. Hmmm... Jadi maaf kalau email ini agak-agak ya. Wkwk.

Aku mau cerita soal refleksiku yang paling terakhir soal riset di Bakudapan. Mungkin kamu sudah baca email dari teman-teman Festival Lestari di inbox Bakudapan, mereka sudah menerima output projectnya (laporan, reels, film dokumenter, dan zine) dan sepertinya cukup puas dengan hasilnya. Ada satu hal yang menarik perhatianku dalam email tersebut, berikut penggalannya: 

  •       Beberapa hal yang juga membuat program ini cukup kaya menurutku adalah pelibatan masyarakat di Sanggau, Sintang, Kapuas Hulu, dan Pontianak. Tidak hanya sebagai pemberi pengetahuan lokal, namun juga sampai proses penulisan dan pendokumentasian.

Maksudku menyinggung ini bukan karena mau pamer, ya. Wkwk. Aku jadi berpikir aja soal istilah "pelibatan masyarakat" dan "pemberi pengetahuan lokal". Riset kemarin rasanya cukup mawas diri dalam menyadari kekurangan dan keterbatasan tim riset, sehingga kami juga jadi hati-hati banget dalam membuat narasi untuk tiap luaran yang akan dilihat publik. Gimana nggak? Proses risetnya hanya 2-3 hari untuk tiap komunitas dan di tiap kabupaten hanya dapat kurang lebih 10 hari. Akhirnya siasatnya macam-macam: menggunakan pertanyaan untuk mengkritisi secara halus, mengundang orang-orang yang kami temui untuk ikut menulis dalam zine, dan tidak menuliskan nama narasumber untuk meminimalisir hal yang berpotensi membahayakan mereka. Aku jadi terpikir gimana dalam proses-proses kerja di Bakudapan, kita perlu menyeimbangkan antara mendengar, merespons, atau bahkan step back. Mungkin kesannya ribet, tapi sepertinya perlu diupayakan sebagai cara untuk menghormati orang lain dan pengetahuan yang mereka bagikan ke kita. Di umur 10 tahun Bakudapan, aku jadi berpikir tentang relasi kita sebagai Bakudapan dengan kolaborator, gimana cara menjaganya, dan apa yang perlu kita perbaiki... 

Ngomong-ngomong soal riset, beberapa hari yang lalu aku datang ke sebuah pameran riset hasil kolaborasi Dala Institute dan Auriga Nusantara di Taman Ismail Marzuki. Risetnya soal krisis ekologi dan penjaga lingkungan di Wawonii, Sulteng dan Poco Leok, NTT. Mereka melibatkan warga di dua lokasi tersebut untuk jadi peneliti untuk riset ini, sedangkan Dala & Auriga jadi semacam fasilitator untuk persoalan metodologis dan etis aja. Waktu aku ke sana, ternyata beberapa peneliti dari Wawonii dan Poco Leok pun hadir, selain untuk acara diskusi dan screening, tetapi juga untuk menceritakan proses dan situasi mereka. Menariknya juga, sebagai awalan dari riset ini, tim Dala & Auriga mengembangkan serial zine gitu untuk mendudukkan perspektif mereka dalam melihat persoalan krisis ekologi. Wah seru deh, lebih lanjutnya kamu bisa lihat di Instagram yaaa...

Anyway... Dua hal ini membuatku agak terenyuh deh... Soalnya aku sebenernya takut/cemas/skeptis buat melakukan riset. Selain karena field work itu menegangkan dan agak-agak untuk orang introvert dan pemalu sepertiku, aku tuh sering terpikir: di mana posisi kita? Seperti apa sih seharusnya kita merespons cerita orang-orang? Apa yang bakal kita lakukan setelah riset? 

Sampai sekarang aku juga masih bingung sih dan masih sering kepikiran, tapi kurasa perlahan-lahan aku menemukan sedikit pegangan selama berproses dengan Bakudapan. Huhu. Malah jadi emosional. Udah deh segitu dulu aja, makasih ya sudah baca email ini. Kutunggu balasanmu (tapi gak perlu buru-buru ya)!

Salam hangat,
Mepi.


                                                                                           


Dear Mepi,

Aku mau berterima kasih kamu menghubungi aku untuk penulisan ini sebenarnya. Belakangan aku merasa cukup lelah dan kehilangan arah karena ada beberapa kejadian bertubi-tubi dalam hidupku. Kejadian-kejadian itu yang membuatku harus mengatur ulang beberapa sistem operasi dalam diriku untuk menavigasi kembali arah yang akan aku jalani. Jadi, aku sangat senang saat kamu memberikan ide untuk menulis bersama.

Ngomong-ngomong soal menulis bersama, aku memikirkan memang rasanya "bersama-sama" ini agak sulit kita dapatkan dalam kerja kolektif di Bakudapan belakangan. Kalau kita nggak bekerja dalam satu proyek yang sama, rasanya agak sulit berkomunikasi satu sama lain. yang mana agak aku sayangkan. Namun, aku juga paham bagaimana kesibukan dari satu proyek ke proyek lain ini menjadi salah satu kendala untuk berkomunikasi secara "kasual". Bahkan untuk saling berbagi mengenai perkembangan kerja di Bakudapan rasanya sulit, apalagi kalau hanya untuk basa-basi? Ini juga pertanyaan yang aku miliki saat Bakudapan menginjak usianya yang ke-10. 

Saat membaca email-mu kembali aku merasa ini bisa jadi satu metode atau cara yang bisa kita tempuh untuk berbagi mengenai pekerjaan yang dilakukan dalam Bakudapan, rasanya kalau hanya menggunakan WhatsApp kok terlalu cepat ya, cerita itu menguap dan tertutup dengan pesan lain yang masuk. Jadi, aku senang sekali saat membaca email-mu, rasanya seperti aku ikut ambil bagian dalam proses kerja ini. Sebelumnya, SELAMAT YA! Kalian udah bekerja begitu keras untuk menulis dan merangkum semua data menjadi luaran yang begitu bagus. Terutama saat kamu juga menyebutkan mengenai "pelibatan masyarakat". Aku rasa itu menjadi poin penting yang bisa kutangkap dari ceritamu tentang kerja di Festival Lestari. Kita berdua sama-sama lulus dari jurusan antropologi dan rasanya banyak pertanyaan juga terkait pelibatan masyarakat dalam kerja-kerja penelitian, kan. 

Kamu juga menyebut soal "menyeimbangkan antara mendengar, merespons, atau bahkan step back", yang mana membuatku langsung memikirkan soal topik kerja perawatan yang kita pelajari bersama di Sejawat Merawat. Hal yang langsung muncul di kepalaku adalah mengenai betapa melelahkannya proses ini tapi harus dan wajib dilakukan. Aku sempet memikirkan juga soal apa yang perlu diperbaiki dari kerja Bakudapan ya? Menurutku salah satu poinnya sebenernya udah kamu sebutin sih Mep, soal bagaimana berproses bersama kolaborator. Ada salah satu percakapan (yang mana aku lupa dengan siapa dan kapan) soal hal ini dan poinnya yang masih aku ingat adalah menjadi kawan. Cuman memang perlu juga bagaimana perkawanan ini dinavigasi dan juga mungkin memang bukan sesuatu yang "ajeg" tapi terus berkembang juga menyesuaikan bentuknya terus menerus.

Mungkin juga nih Mep, menjadi kawan adalah cara yang bisa digunakan oleh kita-kita yang awkward dan introvert ini saat melakukan riset. Karena untuk menjadi kawan ada prosesnya, nggak sih? Proses yang aku rasa jadi lebih "genuine" dibanding kita memposisikan langsung sebagai "si peneliti". Walaupun tentu jarak itu juga perlu ya, tetapi kan jadi kawan juga pasti ada jarak. Cuman, aku jadi kepikiran soal membuat kesalahan. Rasanya dalam proses kerja ini kesalahan sering menjadi "momok" atau hal yang ditutupi karena itu suatu bagian yang nggak penting untuk dipertontonkan. Sepuluh tahun bersama Bakudapan pun, masih membuatku untuk terus belajar bagaimana menavigasi kesalahan. Yang mana sering kali aku merasa kayak kamu mep, takut dan cemas. Kamu pernah kepikiran juga nggak?

Nggak apa-apa juga ya, Mep jadi emosional, asal itu bisa membuatmu jadi lebih mantap untuk berproses bersama (asik). Aku tunggu balasanmu ya!

Salam kebijakan,
Nisa





Dear Mba Nisa,

So sorry mendengar situasi sulit yang kamu alami akhir-akhir ini. Aku selalu suka analogi-analogi yang kamu pakai buat cerita, jadi semoga pengaturan ulangnya lancar dan bisa sekalian update hal-hal lain yaa... 

Emailmu membuatku sadar kalau iya yah, mungkin kita juga perlu memikirkan gimana cara kita bisa tetap menjaga silaturahmi di antara kita sendiri. Jangan-jangan sebelum memikirkan kolaborator, kita perlu muhasabah diri dulu secara kolektif. Njir, tapi kapan dan gimana yah? Aku jadi pengen mengingat kita sudah coba beberapa metode buat membagi kerja di Bakudapan:

  • Person-in-Charge: Seorang atau dua orang yang tune-in ke suatu undangan, acara, atau output gitu. Juga dipakai buat hosting rapat rutin (manusia berencana, tuhan yang menentukan) beberapa waktu yang lalu. Sejauh ini kayaknya masih paling paten dan relevan untuk kita ya? 
  • DARCI: Meminjam metode yang dipake Arts Collaboratory, ada lima jenis peran: Decision-Maker, Accountable, Responsible, Consulted, dan Informed. Sebenernya menarik, tapi learning curvenya lumayan sih...
  • Divisi dan Dewan: Mirip PIC tapi untuk divisi-divisi dalam Bakudapan dengan fitur khusus Dewan Harian yang dapet update dari tiap divisi (lagi-lagi, manusia berencana...)

Tawaranmu soal menjadi kawan menarik juga. Mungkin itu bisa jadi cara buat melepaskan sedikit beban jadi "si peneliti" dan membantu kita sendiri memosisikan diri ya. Kadang perkawanan bisa langgeng, tahan lama sampai bertahun-tahun; kadang hanya beberapa saat, tetapi durasi yang singkat gak menihilkan maknanya kan... Jadi kepikiran lagi soal gimana kita menjalani "bersama-sama" ini.

Aku jadi ingat waktu kita kumpul di bulan Februari lalu, sempat ada ide kita bikin publikasi berjudul "10 Tahun Kegagalan" wkwkwk. Ngeri-ngeri sedap ya bun kalau dipikirin. Aku juga takut dan cemas berat sih kalau mikirin kesalahan atau kekurangan yang pernah kulakukan. Kadang aku juga mikir, gimana caranya agar kita jadi orang yang akuntabel dan hold each other accountable? Ini salah satu ilham yang kudapatkan sewaktu ketemu teman-teman SimpaSio 2023 lalu dan perjalanan ke Naarm/Melbourne awal tahun ini. Kupikir ini juga penting buat kita pikirkan, karena kita berdelapan dan kesalahan pasti adaaa aja. Gimana kita bisa pulih setelah konflik, misalnya? Hmmm... 

Anyway, sepakat denganmu soal metode email-mengemail bisa kita coba buat Bakudapan. Apalagi mengingat kita suka refleksi (mengutip Silva, "di Bakudapan kita refleksi terus"), mungkin ini bisa jadi cara buat mengakomodasi kebutuhan itu + update kerja Bakudapan + update personal tipis-tipis tanpa harus menunggu kumpul rame-rame yang agak sulit itu. Kayaknya seru sih, patut dicoba! Meski gitu, tetep seneng sih kalo liat foto update dari temen-temen di grup WhatsApp, kayak kamu dan Gatari waktu di Tokyo kemarin, dan yang terbaru Gatari dan Elia di Kathmandu.

Gitu dulu yah. Sekarang udah mau jam 1 malam dan perutku mulai keroncongan, jadi aku mau buru-buru tidur wkwkwk. Tengs again karena udah berbalas email di sela-sela keribetan dunia. Kutunggu balasanmu ya!

Salamualaikum,
Mepi.



  

Dear Mepi,

Setelah dapat email darimu aku mulai berpikir beberapa hal terkait kerja kita. Aku jadi teringat mungkin Monika yang ngomong kalo dia merasa kita kurang waktu untuk diri kita sendiri, terlalu banyak melakukan hal ke luar tapi jarang ke dalam. yang mana kemudian jadi nyambung sama poin muhasabah yang kamu sebut itu tuh. Walaupun, mungkin nggak perlu segitunya ya haha. Tapi aku suka dengan ide itu. Cuman memang ya, kerja perawatan itu sangat melelahkan bahkan untuk merawat diri sendiri, yang mana kalau kasusnya sekarang itu merawat kolektif kita sendiri secara internal. Kapan dan gimana akan selalu jadi tantangan kita untuk memulai. Terlebih ditambah kesibukan masing-masing yang kita juga sering merasa nggak enak untuk mengganggu mereka. Huhu

Makasih juga kamu udah ingetin soal beberapa metode! Aku sampai lupa kita udah belajar beberapa metode untuk fasilitasi kerja bersama ini. Rasanya memang betul aku setuju sama kamu, kita cuman bisa berencana tapi pada akhirnya kesibukan untuk mencari uang yang memutuskan. Lagi-lagi faktor ekonomi masing-masing orang mempengaruhi banget sih kerja kita ini, terutama  dalam Bakudapan kita secara penuh menyadari bahwa Bakudapan itu bukan sumber keuangan kita tapi pengetahuan bersama. 

Termasuk pengetahuan mengenai kesalahan. Aku juga sering merasa cemas kalau memikirkan kesalahan yang sudah pernah dibuat atau secara nggak sadar dibuat. Seringkali kerja kolektif kan dilakukan secara santai dan kekeluargaan atau "organik". Namun, aku tuh percaya sekalinya pun organik tetap harus ada sistem dan kerangka yang menaungi. Memang jadinya di awal kesannya jadi formal karena ada "sistem yang mengatur" tapi kalau ini adalah kesepakatan bersama rasanya bisa jadi pegangan untuk semua orang supaya bisa mulai akuntabel sih. Bayanganku demikian. Salah satu pengalaman di Jepang kemarin sempat ada satu kesalahan juga yang membuat proses kerja jadi sedikit tertunda karena harus diselesaikan. Dan pelajaran yang aku dapat adalah menjadi rendah hati untuk mengakui kesalahan dan mendengar. Juga menjadikan rasa bersalah ini pelajaran bukan sesuatu yang menghentikan kita. Dan rasanya ini kembali lagi ke gimana kita merawat ini bersama termasuk merawat kesalahan bukan untuk mengulanginya tetapi menjadikannya pelajaran. Aku inget banget Bakudapan sering ditanya soal bagaimana kita menyelesaikan konflik kalau ada orang wawancara dan mungkin ini salah satu cara yang bisa kita lakukan, untuk membuka "dapur" kita. Area domestik yang seringkali tertutup dari luar tapi sebenarnya menyimpan banyak cerita dan pelajaran berharga walaupun sering dianggap "kotor" dan "tidak pantas" dipertunjukan.

Wah, yapping banyak aku. Maaf ya Mep, aku kepikiran banyak hal dari pantikanmu soalnya. Semoga kita bisa terus rileks update kabar satu sama lain di grup ya, rasanya itu jadi hal yang penting juga deh buat dinamika kita kayak yang kamu bilang. Makasih Mep!

Salam kehangatan abadi,
Nisa

Nisa is an independent researcher and art worker. She co-founded Bakudapan Food Study Group after she graduated from the Cultural Anthropology Department at Gadjah Mada University. Through her experience working in collectives, she gained interest in experimenting with research practices and learning methods. Nisa’s ongoing research interests are care and labour issues, solidarity and knowledge production which she actively exercises in her practice personally and collectively.

Meivy is a researcher and translator with eclectic interests. Perhaps her years as an anthropology student may be responsible for this outlook as she continues striving to find meaning and wonder in the mundane. In Bakudapan, she found an expansive way to channel her misgivings about food and learn about collectivity. She is currently honing her skills in reading and writing about food, gender, and literacy.

rewave press | est. 2025